Mewariskan Cita Rasa Kebaikan


Ada yang menarik dari warung makan sederhana itu. Di tengah rapatnya jejeran tempat makan di pinggir kota, warung sederhana itulah yang paling ramai pembelinya. Terbaca dari sibuknya tukang parkir menata jajaran motor dan mobil yang memenuhi pelataran. Kami pun penasaran, makanan apa yang dijualnya?

Dilihat dari luar, tidak ada satu pun penanda, apa yang dijual di warung itu.  Tidak ada  kain spanduk atau pun papan nama yang menempel di depannya. Dengan rasa penasaran, kami memarkir motor di pelataran warung itu. Suami langsung antri di sisi gerobak untuk memesan makanan. Barulah saat itu, kami mengetahui makanan yang dijualnya, yakni soto kuali.

Selama menikmati soto panas, ada sebuah pemandangan yang menarik. Saya melihat sepasang kakek nenek yang tengah meracik bumbu dibantu seorang ibu yang memasukkan nasi ke dalam mangkok. Ada juga perempuan muda yang mengiris daging, sementara di sebelahnya, seorang laki-laki merapikan mangkok yang tersusun rapi berisi nasi, untuk diberikan kepada lelaki yang menuangkan kuah panas dari kuali. Soto-soto itu kemudian dibawa oleh seorang remaja laki-laki ke meja pembeli, didampingi seorang gadis yang mengurusi pesanan minuman.

Saya menduga warung soto itu adalah sebuah usaha dagang keluarga. Mungkin, pendirinya adalah kakek nenek yang tengah meracik bumbu itu. Sedangkan dua perempuan yang membantunya adalah anak-anaknya. Sementara dua laki-laki di sebelahnya merupakan para menantunya. Atau sebaliknya. Lalu kedua remaja pelayan adalah cucu-cucunya.

Sembari menghabiskan soto, mata saya terus mengamati semua kesibukan keluarga itu dalam melayani pembeli. Terpancar kegembiraan  saat bekerja, seolah mereka menghayati betul setiap pekerjaan yang ada. Seperti sebuah kerja sama dalam suatu teamwork yang sangat profesional.
Saya kemudian  berfikir, mungkin bermula dari usaha kecil keluarga semacam itulah, rumah makan - rumah makan besar kemudian berkibar. Rumah makan ternama yang memakai nama pendirinya sebagai merk dagang mereka. Nama yang mungkin diambil dari nama orang tua mereka. Orang yang telah merintis usaha dan menemukan cita rasa masakannya, hingga anak cucunya bisa melanjutkan usaha tersebut sebagai usaha kuliner yang menguntungkan.

Lama setelah soto habis, saya masih membayangkan barangkali seperti itu juga bila ajaran kebaikan dan kebenaran terwujud dalam keluarga. Meski tak pernah mewartakan diri sebagai orang baik, tetap akan memancar dengan sendirinya. Seperti warung soto yang tidak memasang papan nama itu. Orang tua menanamkan ajaran tersebut kepada anak-anaknya, kemudian anak keturunannya mengikuti dan mengamalkan ajaran kebaikan tersebut.

Seperti kakek nenek yang telah mewariskan “cita rasa istimewa” itu, orang tua juga mewariskan "cita rasa kebaikan" yang akan membuat anak cucunya terjaga. Bagi sebuah usaha yang telah turun temurun terbukti menguntungkan, maka sungguh berbahagialah para orang tua yang bisa menurunkan rumus kehidupannya. Namanya akan selalu dalam kenangan, dan seperti cita rasa khas makanan, ia akan terus dinikmati orang, sepanjang masa.

Kontributor : Inspirator Mursyidah

Editor : Ra
Share on Google Plus

About PKS Kabupaten Magelang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment